Pemuda mengapresiasi kesenian tradisional

Seputar Indonesia, Jum’at 28 Agustus 2009

Dalam suatu kesempatan, seniman Indonesia Butet Kertaredjasa pernah menuturkan, “Budayawan juga pejuang, yang memperjuangkan budayanya, untuk tidak direbut oleh negara tetangga. Maka dari itu, harus pintar.”

Kalimat yang keluar dari mulut beliau tersebut menurut beberapa kalangan mungkin dirasa berlebihan. Namun, pernyataan itu toh akhirnya benar-benar terbukti juga! Di saat banyak kasus klaim atas budaya tanah air oleh negara tetangga Malaysia, barulah kita terbakar amarah dan merasa cinta pada kebudayaan tradisional. Pada saat itulah kita sadar bahwa budayawan yang mungkin selama ini dianggap sebagai sosok yang biasa-biasa saja, akhirnya dianggap sebagai sosok yang penting bahkan vital dalam mempertahankan citra kebudayaan nasional. Harus diakui pula, bahwa budayawan akhirnya pantas disandingkan bak pejuang tanah air.

Pilu rasanya saat kebudayaan kita diklaim kepemilikannya oleh Malaysia. Tidak hanya satu, tetapi banyak yang diklaim. Tapi, jika menilik lebih dalam, tidak sedikit dari kita pun yang memang kurang apresiatif terhadap kesenian tradisional di Indonesia. Kalau begitu siapa yang salah? Malaysia jelas tetap bersalah! Adapun kita sebagai masyarakat Indonesia juga patut memperbaiki diri agar lebih apresiatif terhadap kebudayaan yang kita miliki.

Inilah yang sepatutnya menjadi suatu hal yang harus kita fikirkan bersama. Masyarakat kita memang kurang peduli terhadap pertunjukkan tradisional. Ini suatu pertanda bahwa apresiasi kita terhadap seni tradisional sangat lemah. Dampaknya, budayawan dan seniman yang berkecimpung dalam kesenian tradisional akhirnya juga tidak diapresiasi dengan baik. Dalam event-event yang diadakan selama ini, kita hanya mendapati hanya segelintir acara yang di dalamnya mementaskan seni tradisional. Pengaruhnya tentu sangat terasa, kita sebagai masyarakat Indonesia kurang pengetahuan tentang kekayaan budaya negeri sendiri.

Adapun apresiasi terendah terhadap seni tradisional Indonesia barangkali lebih besar menghingapi kalangan muda. Betapa tidak, pertunjukkan musik modern memang sudah mendarah daging di kalangan mayoritas anak muda saat ini. Berdesak-desakan untuk menonton konser musik modern nampaknya memang menjadi suatu hal yang lumrah. Alih-alih takut disebut “gak gaul”, pementasan kesenian tradisional pun ditinggalkan.

Melihat permasalahan ini, jalan yang bisa ditempuh untuk memajukan kebudayaan nasional yang di dalamnya mencakup kebudayaan tradisional tiada lain harus diawali dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap kesenian daerah. Rasa cinta inilah yang nantinya mendorong kita, khususnya pemuda, memiliki rasa ingin tahu terhadap kesenian masing-masing daerah dan menghargai kesenian tersebut. Di sisi lain, event-event pertunjukkan seni tradisional juga harus diperbanyak. Pihak lain tentu tidak akan berani mencuri apa yang kita anggap berharga sedangkan kita sendiri memiliki pengetahuan yang mendalam dengan kesenian tersebut. Kita tentu tidak rela lagu rasa sayange yang berasal dari Maluku, kesenian Reog Ponorogo hingga tari pendet Bali diklaim kepemilikannya oleh bangsa asing.

Pemuda sebagai penduduk terbanyak di negeri ini jelas memiliki peran besar sebagai apresiator seni tradisional. Melalui tangan pemudalah kesenian kita bisa berkembang jika diapresiasi dengan baik. Tidak hanya itu, kaum muda jualah yang nantinya bertindak sebagai penerus dan pemelihara kesenian tradisional karya anak bangsa yang tersebar di berbagai pelosok negeri. Budayawan kita tentu tidak bisa selamanya mengurus keberlangsungan kesenian daerah yang ada selama ini. Mari kita apresiasi budaya Indonesia.

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi UI

Riwayat singkat WS Rendra

Jakarta (ANTARA News) – Setelah dirawat karena menderita serangan jantung koroner, budayawan dan penyair besar Indonesia WS Rendra wafat pada usia ke-74 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Pendiri Bengkel Teater yang termasyur itu dikenal sebagai seniman serba bisa, tidak hanya budayawan terkemuka nasional, penyair dan dramawan besar, namun juga seorang aktor.

Disutradarai Sjuman Djaya, dan berpasangan dengan aktris Yati Octavia, pada 1977, Rendra pernah membintangi film remaja “Yang Muda Yang Bercinta,” namun kemudian dilarang beredar karena tujuan-tujuan politis saat itu.

Dalam salah satu penampilan puisi terkenalnya pada Mei 1998, di ruang gedung DPR RI semasa awal reformasi, almarhum berorasi dengan membacakan puisi karya aktivis dan penyair Wiji Thukul yang kesohor, “Hanya ada satu kata, Lawan!”

Jauh sebelum itu, pada 1990an, bersama para seniman dan musisi seperti Iwan Fals, Setiawan Jodi, Sawung Jabo, dan lainnya, Rendra menggelar konser Kantata Takwa yang fenomenal dan mengusik rezim Orde Baru saat itu, diantaranya dengan menggelegarkan lagu “Bento” yang penuh kritik.

Di luar kehidupan rumah tangganya yang ramai oleh perhatian media, Rendra mungkin merupakan salah seorang sastrawan Indonesia paling berpengaruh tidak hanya pada dunia seni dan sastra nasional kontemporer, namun juga pergerakan sosial dan politik Indonesia pada empat dekade terakhir.

Lahir pada 7 November 1935 di kota Solo, Jawa Tengah, Rendra yang juga cerpenis ini pernah berkuliah pada Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, setelah sebelumnya menamatkan SD sampai SMA di St. Yosef, Solo, pada 1955.

Pada 1964, dia memperoleh beasiswa dari American Academy of Dramatical Art, sampai selesai menempuhnya pada 1967.

Salah seorang ikon sastra nasional yang dikenal dengan sebutan “Si Burung Merak” ini terlahir dari pasangan Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah, dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra.

Sejak masa remaja, Rendra sudah terbiasa menulis naskah drama sampai kemudian menjadi salah seorang dramawan besar Tanah Air, namun dikenal sebagai sastrawan independen dan memiliki ciri khasnya sendiri.

Oleh karena itu, mengutip Prof. A. Teeuw dalam “Sastra Indonesia Modern II (1989)” seperti ditulis Wikipedia Indonesia, Rendra tidak termasuk pada satu pun angkatan sastrawan Indonesia, baik Angkatan 45, Angkatan 60an ataupun Angkatan 70an.

Rendra menikah tiga kali dengan tiga perempuan berbeda. Pertama pada 31 Maret 1959 dengan Sunarti Suwandi yang darinya dia dikarunia lima anak, yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan Klara Sinta.

Kedua, pada 12 Agustus 1970, dia menikahi murid seninya yang juga keturunan Keraton Yogyakarta, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Dari Sitoresmi, Rendra dikaruniai Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Terakhir, Rendra menikahi Ken Zuraida, hingga kemudian dikarunia Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Pada 1979 dan kemudian pada 1981, Rendra berturut-turut menceraikan Sitoresmi dan Sunarti.

Diantara belasan naskah drama terkenalnya adalah “Orang-orang di Tikungan Jalan,” “Panembahan Reso,” dan “Kasidah Barzani.” Rendra juga menulis banyak puisi dan sajak, diantaranya yang terkenal adalah “Nyanyian Angsa” dan “Sajak Rajawali.”

Rendra juga beberapa kali memperoleh penghargaan sastra, diantaranya yang prestisius adalah Penghargaan Adam Malik pada 1989, S.E.A. Write Award pada 1996, dan Penghargaan Achmad Bakri pada 2006. (*)

http://www.antaranews.com/berita/1249581342/riwayat-singkat-ws-rendra

W.S Rendra Wafat

ws_rendra-01JAKARTA–Indonesia kehilangan seniman terkemuka. Seorang sastrawan, penulis, dan dramawan berkaliber internasional, WS Rendra (74 tahun) yang dikenal dengan sebutan si Burung Marak, meninggal dunia pada Kamis (6/8) malam, sekitar pukul 22.30 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jabar.

Kerabat Rendra yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Survei Nusantara, Gugus Joko Wasito, mengirimkan kabar duka ini. “Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Telah meninggal (dunia) baru saja Mas WS Rendra di RS Mitra Keluarga, Depok. Mohon didoakan, trims,” demikian isi pesan singkat (SMS) dari Gugus Joko. Saat-saat terakhir, sang istri –Ken Zuraida– terus mendampingi Rendra.

Pria bernama lengkap Willy Sulaeman Rendra (Willibrodus Surendra) ini lahir di Solo, Jateng pada 7 November 1935. Beberapa bulan terakhir ini, rendra sering masuk rumah sakit akibat menderita gangguan jantung. Dia juga secara rutin menjalani cuci darah akibat gangguan kesehetan yang dideritanya.

Sejak SMP, Rendra dikenal memiliki bakat seni yang luar biasa. Ayah Rendra, Broto, merupakan seorang seniman sekaligus guru bahasa. Sedangkan ibunya, RA Ratnadilah, adalah seorang penari serimpi.

Pria yang sempat kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada ini juga pendiri Bengkel Teater. Karya-karyanya begitu dikenal luas di dalam dan luar negeri.

http://www.republika.co.id/berita/67685/WS_Rendra_Wafat

WS Rendra Meninggal Dunia

WS Rendra atau Willibrordus Surendra Broto Rendra, seniman, sastrawan, budayawan dan penyair yang dijuluki  Si Burung Merak ini wafat, meninggal dunia, meninggalkan kita untuk selama-lamanya menyusul seniman fenomenal Mbah Surip. Bangsa Indonesia harus kehilangan salah satu seniman sekaligus budayawan nya yang memiliki nama dan karya besar dan bersahaja.

Kamis (6/8) sekitar pukul 22.10. WS Rendra dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa, setelah sebelumnya menderita sakit. Rendra meninggal di RS Kelapa Mitra, Kelapa Gading, Jakarta. Penyebab kematian WS Rendra diduga karena mengidap penyakit jantung koroner yang dideritanya. WS Rendra tutup usia pada umur 74 tahun.

Selama hidupnya, WS Rendra mencurahkan tenaga dan pikiran serta goresan tintanya di dunia sastra, kepenyairan, dan puisi-puisi yang sarat akan nuansa gugatan terhadap segala bentuk penindasan. Di Bengkel Teater, teater yang dirintis dan didirikannya, dia menjadi pemimpin, penulis naskah, sutradara dan sekaligus pelakon.

Karya-karya WS Rendra juga mendapatkan apresiasi di luar negeri. Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977 .

Sepenggal kalimat “Perjuangan Adalah Pelaksanaan Kata-Kata” merupakan kalimat yang sangat berarti bagi Saya sejak  pertama kali membaca Puisi Paman Doblang Karya WS Rendra. Selamat Jalan WS Rendra Si Burung Merak.

Posting Diolah dari berbagai Sumber, termasuk dari situs tokohindonesia.com

http://kangnawar.com/hikmah-pelajaran/ws-rendra-meninggal-dunia

Peningkatan Kesejahteraan yang Berkeadilan

SEBAGAI salah satu negara berpenduduk terbesar di dunia,wajar jika kelangsungan hidup penduduk Indonesia perlu diperhatikan secara serius oleh pemerintah.

Apalagi, jumlah penduduk miskin dan hampir miskin di Indonesia masih tergolong tinggi. Ini jelas meminta perhatian yang lebih serius dari pemerintah agar masalah ini dapat diminimalkan.Tentu harus ada upaya strategic plan yang terarah plus anggaran yang memadai agar angka kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan hingga level yang normal.

Berdasarkan pidato presiden pada rapat paripurna luar biasa DPR-RI di Gedung MPR/DPR di Jakarta, Senin (3/8) lalu,anggaran untuk program kesejahteraan rakyat untuk 2010 mendatang ditetapkan mencapai Rp37 triliun. Secara garis besar,jumlah ini mencakup upaya pemeliharaan kesejahteraan rakyat, penataan kelembagaan,dan pelaksanaan sistem perlindungan sosial.

Disebutkan pula oleh Presiden bahwa program yang akan dijalankan nantinya berupa kenaikan gaji bagi pegawai negeri sipil (PNS),TNI,Polri, pensiunan, serta guru/dosen, serta pemberian BLT pada saat terjadi tekanan yang sangat berat terhadap kelompok keluarga miskin.Selain itu, program yang semula telah dijalankan adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS),Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas),PKH,Beras Bersubsidi,BLT bersyarat akan lebih diperkuat.Adapun satu yang tidak ketinggalan ialah memberikan perlindungan pada masyarakat miskin atau hampir miskin (near poor) dengan menyediakan jaring pengaman sosial.

Program-program yang diutarakan di atas tentu harus dioptimalkan oleh pemerintah agar target penurunan angka kemiskinan mencapai 12–13,5% sebagaimana yang telah ditargetkan sebelumnya. Oleh karena itu, program jaring pengaman sosial yang ditujukan untuk melindungi rakyat miskin dan hampir miskin harus ditangani secara baik dengan mekanisme yang tepat. Permasalahannya di sini tinggal merapikan objek yang mendapat perlakuan tersebut. Belajar dari pengalaman, masih ada ketidakadilan dalam proses penerimaan BLT.

Masih ada keluarga yang berkategorikan miskin, tapi tidak mendapatkan BLT, adapun yang hampir miskin mendapatkannya. Kesenjangan pun selalu berpotensi untuk terjadi karena ketidakrapian objek penerima BLT ini.Belum lagi dengan program lain yang lagi-lagi juga mendapat benturan masalah serupa,semisal Jamkesmas. Masalah ini jelas merupakan hal yang krusial karena di dalamnya mencerminkan keadilan pemerintah dalam menjalankan programnya.

Pendataan yang tepat dengan melibatkan institusi terkait sangat diharapkan agar jumlah keluarga miskin maupun hampir miskin di Indonesia dapat diketahui secara benar dan menyeluruh per provinsi, kabupaten, kota, bahkan hingga tingkat perdesaan,dan rukun warga dan rukun tetangga.

Meski tidak semudah membalikkan telapak tangan, kita tentu masih bisa berharap anggaran ini mampu dimaksimalkan agar upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat berjalan optimal.Semoga angka kemiskinan di Indonesia dapat terus menurun.(*)

Hifdzi Ulil Azmi

Mahasiswa Farmasi FMIPA Universitas Indonesia

(dimuat di harian Seputar Indonesia, Kamis 6 Agustus 2009)

Tabrakan Pakuan Ekpsres Diduga Akibat Langgar Sinyal

Picture%20004[1]Selasa, 04 Agustus 2009 | 12:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta – Insiden tabrakan kereta api Pakuan Ekspres (KA 221) Jakarta-Bogor dengan Kereta Ekonomi (KA 549) Jakarta-Bogor diduga akibat pelanggaran sinyal. Tabrakan ini terjadi pada pukul 10.28 WIB, di Kampung Pasir Pondok Rumput, Desa Bubulak, Kecamatan Tanah Sereal, Bogor, Jawa Barat.

“Indikasi awal KA 221 (Pakuan EKspres) melanggar sinyal dan tidak sempat mengerem,” kata Direktur Jenderal Perkerataapian Tundjung Inderawan, melalu telepon, Selasa (4/8).

Menurut Tundjung, kejadian berawal saat Kereta Ekonomi mogok di lengkungan. Tiba-tiba muncul kereta Pakuan Ekspres dengan kecepatan cukup tinggi dari arah belakang.

Meski begitu, ia melanjutkan, Direktorat Jenderal Perkerataapian akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu untuk membuktikan dugaan itu. Penyelidikan dilakukan bersama-sama dengan Tim Investigator dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Kami sudah mengirimkan tiga orang penyelidik ke lokasi,” ujar Tundjung.

Atas kejadian tersebut, Direktorat Jenderal Perkerertaapian akan memberikan teguran kepada PT KAI Commuter Jabodetabek sebagai operator. Termasuk akan menginstruksikan peningkatan pengawasan dan perawatan agar kesiapan operasi terpenuhi. “Kami juga akan mengingatkan sumber daya manusianya, kalau perlu akan kami grounded jika masih melanggar,” kata dia.

Secara terpisah, Kepala Humas PT Kereta Api Daerah operasi I Sugeng menyatakan kejadian ini telah menyebabkan satu gerbong Pakuan Ekspres agak terangkat, dan satu gerbong Kereta Ekonomi anjlok. “Tapi, saya belum tahu berapa roda yang anjlok,” katanya. (WAHYUDIN FAHMI)

http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/08/04/brk,20090804-190648,id.html

Penyebab Kecelakaan Diduga Kesalahan Perintah

Selasa, 04 Agustus 2009 , 12:29:00

BOGOR-  Insiden kecelakaan KRL Pakuan Ekspres yang menabrak KAL Kelas Ekonomi diduga kuat disebabkan karena terjadi kesalahan perintah keberangkatan di stasiun Bogor.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun JPNN menyebutkan KRL Kelas Ekonomi berangkat dari Stasiun Bogor menuju Jakarta sekitar pukul 10.16 WIB. Padahal, berdasarkan jadwal keberangakatan di stasiun tersebut pada pukul 10.15 WIB merupakan jadwal keberangkatan KRL Pakuan Ekspres. Hal itu dituturkan petugas keamanan KRL Pakuan Ekspres yang tidak bersedia namanya dikorankan.

Sementara di lapangan sempat beredar kabar bahwa KRL Kelas Ekonomi mengalami mogok akibat gangguan mesin dan kemudian ada regulasi yang menyebutkan bahwa KRL Pakuan Ekspres diperintahkan untuk mendorong KRL Kelas Ekonomi.

“Gak mungkin itu. Lha wong kejadiannya sangat cepat dan keras. Sampai ada beberapa gerbong yang mengalami kerusakan,” kata sumber JPNN di lapangan.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan KT Julianto, sekuriti KA Pakuan Ekspres yang menyebutkan bahwa KA Kelas Ekonomi berhenti mendadak sementara rel kereta dalam kondisi berbelok dari stasiun Bogor menuju Jakarta, sehingga tak terlihat.  “Masinis KAL Pakuan tidak melihat kejadian itu karena dari stasiun Bogor sedang melintasi belokan,” kata Julianto kepada JPNN. (pra/fuz/JPNN)

http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=28163

Badan Kereta Menyatu, Banyak Penumpang Tergencet

Selasa, 4 Agustus 2009 | 11:41 WIB

BOGOR, KOMPAS.com — Tabrakan kereta api antara Kereta Rel Listrik (KRL) Pakuan Express jurusan Bogor-Jakarta dan kereta ekonomi di Bogor menyebabkan badan kedua kereta menyatu. Banyak penumpang yang sempat tergencet di antaranya.

“Kereta Pakuan lengket dengan kereta ekonomi. Bagian depan Kereta Pakuan nempel dengan kereta ekonomi yang ditabrak,” ujar Danang kepada Radio Sonora. Danang adalah saksi mata yang saat itu menumpang Kereta Pakuan tersebut.

Ia mengatakan, akibat tabrakan tersebut bagian depan gerbong Pakuan rusak parah dan sampai hampir terangkat ke atas. Begitu pula dengan gerbong paling belakang kereta ekonomi.

Akibat benturan yang sangat keras, ia mengaku sampai terpental berkali-kali dari posisi duduk hingga terjatuh. Namun, ia ada di gerbong tengah sehingga tidak mengalami luka parah meski lecet dan masih shock.

“Paling parah penumpang yang ada di antara gerbong. Banyak korban yang tergencet di antara gerbong Pakuan dan kereta ekonomi,” ujar Danang.

Evakuasi terhadap korban, kata Danang, sudah dilakukan. Terutama banyak dibantu penumpang kereta Pakuan dari Jakarta yang akan masuk Bogor dan kebetulan melintas. Sejauh ini belum dilaporkan korban jiwa dan seluruh korban yang mengalami luka-luka.

Sedangkan badan kereta belum dilakukan evakuasi. Saat ini banyak warga yang berkerumun untuk menyaksikan peristiwa tersebut.

Danang menceritakan kereta ekonomi mula-mula bergerak dari stasiun. Selang lima menit kemudian kereta Pakuan menyusul dan menabrak dari belakang. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 10.20 tepatnya di belakang pabrik Good Year.

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/04/11412440/kereta.menyatu.banyak.penumpang.tergencet

Kereta Tabrakan, Penumpang Menuju Bogor Turun di Cilebut

Selasa, 04 Agustus 2009 | 12:16 WIB

3366037680_45e811ff95TEMPO Interaktif, Bogor – Petugas PT Kereta Api Indonesia dari Stasiun Bogor mengatakan penumpang dari Jakarta ke Bogor terpaksa diturunkan di Stasiun Cilebut akibat kecelakaan antara Kereta Api Ekspress Pakuan dan Kereta Api Ekonomi.

Menurut petugas PT Kereta Api yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, akibat kecelakaan itu lalu lintas kereta dari Bogor ke Jakarta dan sebaliknya terganggu.

Akibat kecelakaan tersebut, penumpang Kereta dari Jakarta ke Bogor diturunkan di Stasiun Cilebut, Jawa Barat.

Kereta Pakuan menyeruduk Kereta Ekonomi sekitar pukul 10.30 di Pondok Rumput, Kecamatan Bogor Tengah, Jawa Barat. Akibat kecelakaan tersebut diduga puluhan orang mengalami luka-luka.

DEFFAN PURNAMA

http://www.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2009/08/04/brk,20090804-190638,id.html

Mbah Surip meninggal

mbah-surip1Metrotvnews.com, Jakarta: Penyanyi fenomenal Mbah Surip meninggal di Rumah Sakit Pusdikkes, Jakarta Timur, Selasa (4/8). Sejauh ini, belum diketahui penyebab kematian pelantun Tak Gendong itu. Namun, dugaan kuat, Mbah Surip kelelahan.

Menurut sejumlah sumber, nyawa Mbah Surip tidak bisa terselamatkan oleh dokter di RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Penyanyi berambut gimbal itu telah meninggal saat tiba di rumah sakit. Mbah Surip meninggal pukul 11.30 WIB.

Sejauh ini, belum diketahui yang menjadi penyebab meninggalnya penyanyi berpenampilan khas itu. Menurut beberapa sumber, mulut Mbah Surip telah berbusa saat dilarikan ke RS Pusdikkes. Namun sebagian lainnya menyebutkan bahwa Mbah Surip mengalami serangan jantung.

Dalam setiap aksi panggungnya, Mbah Surip selalu terlihat atraktif. Mbah Surip mengaku tak pernah lelah. Dia selalu terlihat bersemangat dalam menjalani hidup. Maniak kopi dan rokok ini belakangan dipenuhi dengan jadwal manggung.

Tak hanya di Jakarta, terkadang pria berambut gimbal ini juga suka tampil di luar kota. Mbah Surip mengaku tidak lelah dengan aktivitas padatnya tersebut walau umurnya tak muda lagi.

‘Harus semangat. Saya pernah nyanyi 60 jam tanpa henti. Paling kalau lelah tidur sebentar setelah itu capeknya hilang,” kata Mbah Surip saat ditemui wartawan di Studio Penta, Jakarta Barat, beberapa waktu silam.

Mbah Surip juga tidak terlalu mempermasalahkan popularitasnya yang diraihnya di usia tua. Pemilik nama Urip Aryanto ini mengatakan dia selalu mensyukuri apa yang didapatnya selama ini. Meledaknya album Tak Gendong, membuat dia menjadi miliarder dadakan. Konon, ia mendapat royalti dari lagu tersebut hingga Rp 4 miliar.

Popularitas Mbah Surip yang terus menanjak membuat pria ini memiliki ratusan penggemar. Di dalam jejaring sosial terkenal, Facebook, tercatat bila penggemarnya itu berjumlah sekitar 182.071 orang.

Berdandan ala rastafaria, Mbah Surip sudah bergaya hidup bohemian sejak lama. Ia besar sebagai seniman jalanan. Tak banyak yang berubah dalam diri Mbah Surip, meski kini dia telah terkenal dan menjadi kaya. Kini, para pecintanya akan kehilangan salam khas Mbah Surip, I Love You Full.(DSY)

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newscatvideo/sosbud/87766/4/8/2009/Mbah-Surip-Meninggal

Mbah surip meninggal dunia

Mbah Surip meninggal dunia sekitar pukul 10.30 WIB di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Penyanyi fenomenal beraliran reggae itu meninggal dunia di rumah pelawak, Mamik Prakoso.

“Mbah Surip sempat dirawat di rumah Mamik Prakoso,” kata staf RS Polri Kramat Jati, Agus, Selasa, 4 Agustus 2009.

Rumah Mamik Prakoso tak jauh dari RS Polri Kramat Jati di Jalan Makassar, Jakarta Timur. Mamik disebutkan sempat dirawat di kediaman pelawak Srimulat itu.

Nyawa Mbah Surip tidak bisa terselamatkan oleh dokter di RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Penyanyi lagu ‘Tak Gendong’ itu telah meninggal saat tiba di rumah sakit tersebut.

“Jadi pas tiba di sini sudah tidak bernyawa, sudah meninggal,” kata Mega, petugas RS Pusdikkes kepada. Namun apa penyebab meninggalnya penyanyi gimbal itu belum diketahui.

Mulut Mbah Surip telah berbusa saat dilarikan ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Namun apa penyebabnya, belum diketahui.

“Tadi pas dibawa ke sini mulutnya sudah berbusa,” kata Mega, petugas pendaftaran RS Pusdikkes.

Namun apa penyebab Mbah Surip meninggal belum diketahui pasti. “Belum tahu,” Kabar yang beredar dari SMS ke SMS menyebutkan Mbah Surip kena serangan jantung.

Saat ini jenazah penyanyi lagu ‘Tak Gendong’ itu sedang diotopsi. “Sekarang sedang diotopsi mungkin sekitar 2 jam,” kata Mega, petugas RS Pusdikkes, Jakarta Timur.

Menurut Mega, bila meninggalnya Mbah Surip tidak ada keganjilan, maka jenazah dapat dibawa pulang oleh keluarga.

“Nanti kalau tidak ada apa-apa bisa dibawa pulang,” kata Mega.

Mbah Surip meninggal pukul 11.30 WIB setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit, mulut Mbah Surip berbusa.

http://akudansekitar.blogspot.com/2009/08/mbah-surip-meninggal-dunia.html

Mbah Surip Wafat

JAKARTA — Tuhan tiba-tiba saja mengangkat derajat Mbah Surip dengan begitu cepat lewat tembang “tak gendong”. Dari seorang gelandangan yang tak dilirik orang, tiba-tiba menjadi selebritis dengan kekayaan terakhir tercatat Rp 82 miliar.

Dan tiba-tiba saja, Mbah Surip diangkat ketenarannya secara tiba-tiba pula. Tuhan dengan cepat memangggil laki-laki yang tengah berada di titik kulminasi ketenarannya. Mbah Surip kini telah tiada.

Laki-laki yang menggelandang di ibukota dengan mimpi terakhirnya ingin mempunyai sebuah helikopter ini menghembuskan nafasnya pada hari Selasa (4/8) pukul 10.30.

Menurut informasi, bah Surip di bawa ke RS Pusdikkes, Jakarta Timur.”Meninggal pukul 10.30 WIB. Dibawa ke sini sudah meninggal,” kata Ibu Omega, bagian rekap medis di RS Pusdikkes, Jakarta Timur. Belum jelas Mbah Surip meninggal karena penyakit apa. Dia meninggalkan 4 anak dan 4 cucu setelah 26 tahun menduda.

http://www.republika.co.id/berita/66899/Mbah_Surip_Meninggal_Dunia